Kecemplung di Pendidikan Luar Biasa?

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakaatuh.
Hai, teman-teman semua yang aku sayangi.
Hih, gak lah. Ngapain gue sayang sama lo semua.
Wkwkw.
Canda.
Sans aja mamen.
Ok, di post pertama ini. Sebenernya gak pertama huhu. Ini kesekian kalinya gua bikin blog karena blog gua yang sebelumnya ke hapus huaaa, so sad. Ya udahlah ya, takdir. Oh iya, back to the topic, di post ini gua pengen cerita sedikit tentang kenapa gua masuk jurusan Pendidikan Luar Biasa.
            Dari gua SD-SMA gua paling hobi dengerin curhatan temen-temen gua di sekolah, mulai dari hal gak penting sampe ke hal yang bisa dibilang “Gue orang penting yang dipilih untuk tau hihi”. Bagi mereka-mereka yang curhat ke gua... *asik curhat, mamah dedeh kali ah wkwk* Ya, kata mereka gua adalah solver problems yang baik. Hahaha kata mereka ya, bukan kata gua. Itu lah yang menjadikan mereka suka curhat ke gua. Gua juga gak keberatan sih ketika mereka curhat yang kadang-kadang mereka pun curhat disaat yang gak tepat seperti contohnya gua lagi ngerjain tugas, alhasil gua menunda tugas gua untuk mendengarkan kegundah-gulananya para curhaters wkwk.
Okay, skip. Karena hobi gua itulah yang menginspirasi untuk masuk jurusan Psikologi saat di perguruan tinggi. Sebenernya gak cuma hobi itu yang menginspirasi, ada satu hal lagi yang menyebabkan gua pengen banget masuk jurusan Psikologi, but I can’t tell it in this blog hehe.
Karena gua udah mau masuk ke jenjang perguruan tinggi, dan karena gua masuk di SMA negeri, maka ada 3 jalur untuk masuk PTN, yaitu SNMPTN, SBMPTN, dan Jalur Mandiri. Tiba disaat jalur pertama yaitu SNMPTN, gua dan temen-temen lainnya menunggu pengumuman 50% siswa/i  yang dapet undangan SNMPTN. Haha, asli gua deg-degan, karena gua takut gak dapet. Dan pas gua buka website undangan SNMPTN, ALHAMDULILLAH YA ALLAH gua termasuk 50% siswa/i disekolah yang dapet jalur undangan SNMPTN.
Setelah itu, gua mulai merancang strategi. Strategi dimana gua harus bisa manfaatin peluang ini supaya gua bisa masuk PTN tanpa jalur tes. Kenapa gua gak mau masuk jalur tes? Pertama, ibu gua dulu sakit-sakitan dan ekonomi keluarga gua lagi jatuh banget. Kedua, gua males belajar buat SBMPTN hehehehehehe. Dan ketiga, gua gak mau ngebebanin orang tua gua dengan mengeluarkan uang hanya untuk tes masuk PTN, karena lebih baik uangnya untuk pengobatan ibu aja hehe.
Hari demi hari berlalu, dan gua terus mencari-cari jurusan apa yang sesuai dengan nilai gua. Kalau masalah universitas sih, gua udah mantep banget milih UNJ atau UIN hehe. Oh iya, lanjut. Gua mulai ragu, apakah gua tetep ambil jurusan Psikologi atau gua ambil jurusan lain. Gua bingung banget, karena disatu sisi gua gak suka jurusan yang berbau hitung-hitungan kaya ekonomi, mtk, dsb. dan yang gua cuma suka dan minat jurusan Psikologi aja tapi disatu sisi kalau gua mempertahankan apa yang gua mau, gua sadar diri banget persaingan untuk masuk jurusan Psikologi ketat sekali bung haha, apalagi nilai rerata rapot gua yang cuma 8,69. Dan disaat gua ngestalk jurusan-jurusan di UNJ secara detail, ketemulah gua sama jurusan “Pendidikan Luar Biasa”. Dari nama jurusannya gua udah bisa nebak, ini pasti jurusan untuk guru yang ngajar ABK, gak tau kenapa, gua tertatik dan gua pun nyoba googling tentang jurusan ini. Awalnya gua cuma tertarik aja, sampe tiba dimana gua lagi main instagram, gua lihat sebuah video yang isinya percakapan antara seorang ustad dan seorang anak laki-laki tunanetra yang merupakan hafizh qur’an.
Si ustad bertanya “Pernahkah engkau meminta kepada Allah untuk bisa melihat?”
“Aku tidak pernah meminta kepada Allah untuk bisa melihat”, jawab si anak tersebut
“Mengapa?” Tanya si ustad
“Agar bisa menjadi keselamatan bagiku pada hari pembalasan (kiamat), sehingga Allah meringkan perhitungan (hisab) pada hari tersebut nanti di saat saya berdiri di hadapan-Nya, takut dan gemetar. Dan dia akan bertanya “Apa yang sudah kau lakukan dengan Al-Qur’an ini?”. Aku hanya berdoa semoga Allah meringankan perhitungan-Nya dan Allah memberikan rahmat-Nya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Tapi Allah telah memberkahi aku dengan Al-Qur’an, dan Alhamdulillah, ketika aku pergi ke mana pun, aku ingin pergi sendiri, hanya sendiri tanpa siapapun dengan aku, tapi ayahku takut dengan apa yang akan aku perbuat.” Jawab anak tersebut.
Dan ketika gua mendengar jawaban anak itu, rasa menyesal sekaligus malu muncul di diri gua ini. Dari situ gua mulai berfikir, gua yang punya fisik sempurna dan udah dikasih hidup selama 18 tahun, tapi hafal Al-Qur’an aja enggak, sedangkan dia yang Allah ciptain dengan kekurangan fisik bisa menghafal Al-Qur’an. Gua malu sebagai manusia dengan fisik yang lengkap tapi gak ada satupun yang bisa dibanggakan. Gua merasa tertampar dengan jawaban anak itu. Dan gak tau kenapa, hati gua seperti terketuk untuk menjadi seorang guru untuk mereka. Iya, mereka yang spesial.
Dan mulai saat itu, PLB-UNJ gua jadikan pilihan kedua setelah Psikologi-UIN. Hari terus berganti, tapi gua masih ragu sama pilihan gua sendiri. Saat itu gua lagi naik Transjakarta, kemudian bis ini berhenti di salah satu halte dan masuklah seorang bapak yang udah cukup tua dan renta. Gua gak tega ngeliat dia berdiri, akhirnya gua samperin bapak itu.
“Pak, duduk aja silahkan, hehe”, ucap gua sambil senyum
Kemudian bapak itu menjawab, dan gua baru tau ternyata bapak itu tunawicara. Gua tau dari pelafalan dia saat bicara yang kurang jelas. Disitu gua mengontrol diri untuk bersikap biasa aja, karena itu pertama kalinya gua berinteraksi dengan seseorang tunawicara, I’m so excited bruh. Dan ketika kejadian itu berlansung, gua melihat seluruh penumpang tertuju ke arah gua dan si bapak dengan tatapan aneh. Jujur, gua benci pandangan mereka yang menunjukan banget kalau mereka menganggap bapak ini aneh. Dan dari kejadian ini ngebuat gua terketuk lagi, gua seperti dititipkan tugas untuk merubah pandangan-pandangan orang awam tentang ABK.
Skip. Akhirnya gua memantapkan diri gua untuk memilih PLB-UNJ, Pend. Bahasa Arab-UNJ, dan terakhir Psikologi-UIN. Entah kenapa, gua berharap banget masuk di PLB-UNJ. Padahal itu jurusan yang gak gua minati pada awalnya. Dan gua menunggu selama kurang lebih 5 bulan untuk tau hasil dari jalur undangan SNMPTN ini.
Okay, tiba dimana hari itu datang gua gak punya hp atau internet buat ngeliat pengumumannya. Akhirnya gua nebeng di rumah temen gua wkwk. Fyi guys, sebelum gua mantep milih jurusan, ibu gua udah berpulang ke rahmatullah, dan disitu gua terpukul banget karena salah satu semangat hidup gua berkurang hihi, ya mau gimanapun, gua tau itu adalah rencana terbaik Allah. Nah, pas gua sampe dirumah temen gua, dan gua buka...ALLAHUAKBAR!!! ALHAMDULILLAH YA ALLAH, MAMA UWI MASUK PTN MAH, CITA-CITA UWI DAN DOA MAMA TERCAPAI HEHE. Gua inget banget dulu almarhumah ibu gua selalu bilang dan berdoa “Anak mama pinter, SD, SMP, SMA nya masuk negeri, semoga kuliahnya juga negeri yaaa”. Gua bersyukur banget, karena akhirnya gua keterima di PLB-UNJ. Gua speechless, karena ayah gua juga berharap banget gua dapet negeri, dan akhirnya apa yang diharapkan tercapai.
Tapi ketika apa yang gua harapkan udah ada digenggaman gua, sesuatu hal ngebuat gua hampir ngelepasnya. Saat pengumuman UKT, gua masuk ke golongan paling tinggi, yaitu 6,4 juta. Gua kaget, kenapa gua bisa dapet digolongan paling tinggi. Gua gak nyerah gitu aja, keesokannya gua dan ayah hadir di jadwal dimana UKT bisa di ganti apabila gak sesuai, dan pas tiba disana gua baru dikasih tau kalau UKT bisa berubah hanya dengan kesalahan data, sedangkan gua gak ada kesalahan data. Gua gak perduli, dan gua tetep masuk antri untuk masuk keruangan penggantian UKT itu. Tiba giliran gua, disitu gua ditanya banyak hal tentang kehidupan gua, mulai dari aktivitas, biaya, dan sebagainya. UKT gua bisa turun, tapi Cuma bisa 5,2 juta, gua gak bisa menyanggupi, karena itu masih terbilang cukup besar. Dan akhirnya gua bernegosiasi, turunlah UKT gua jadi 4,9. Gua bersikeras untuk minta diringankan, karena ayah gua Cuma seorang satpam di perusahaan swasta dan gua anak tunggal. UKT gua gak bisa berubah lagi, dan gua bener-bener yang give up, yaudahlah, mungkin dilain kesempatan impian gua ini bisa terealisasikan. Tapi, emang rencana Allah gak ada yang tau, tiba-tiba UKT gua turun jadi 3,9 juta, masih terbilang besar tapi setidaknya itu udah berukuran jauh dari 6,4 juta. Akhirnya gua dan ayah pun menyanggupi. Gua bener-bener merasa, jurusan ini adalah jurusan terbaik yang Allah pilihin buat gua hihi.
Dan sejak itu gua bertekad untuk mempelajari dan memahami mereka yang istimewa melalui jurusan ini. Mempelajari bagaimana mereka berkomunikasi, bersosialisasi, dan dalam menjalani kehidupan mereka sehari-hari, kemudian memahami apa yang mereka rasakan, ungkapkan, dan inginkan. Gua juga ingin menjadi seorang pendidik bagi mereka yang istimewa dengan berbekal ilmu dari jurusan ini. Bahkan bukan cuma pengen jadi pendidik tapi gua juga pengen menjadi pencipta tempat dimana mereka bisa mendapat pendidikan dengan layak. Karena mereka yang luar biasa layak mendapatkan pelayanan yang istimewa. Dan berbekal ilmu yang akan gua dapat dari jurusan ini, gua pengen mengubah pandangan orang lain yang berfikir mereka yang istimewa adalah sebuah keburukan, candaan, ataupun sesuatu yang hina. Mengubah pandangan mereka yang gak sesuai seperti fakta yang ada, memberikan pandangan baru bahwa mereka istimewa dan luar biasa dengan bakat yang dimilikinya! Lihatlah mereka yang istimewa! Betapa mereka memang spesial dan luar biasa.

Ketika 1000 orang tidak menerima dan tidak memahami mu, maka aku akan menjadi orang ke-1001 yang dapat menerima dan memahami mu.

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.